SUARACELEBES.COM, MAKASSAR — Ada yang memilih panggung untuk menunjukkan siapa dirinya. Namun, ada pula yang menjadikan panggung sebagai ruang untuk membawa sesuatu yang lebih besar: identitas, budaya, dan suara daerahnya.
Bagi Fitriany Anjaly Aly Putri, panggung bukan sekadar tempat untuk berkompetisi, tetapi ruang untuk memperkenalkan kekayaan Sulawesi Selatan sekaligus mengajak generasi muda untuk kembali mengenal dan mencintai budayanya.
Mahasiswa aktif Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Bosowa (Unibos), angkatan 2025, yang akrab disapa FAAP tersebut kini bersiap melangkah ke panggung nasional melalui ajang Putri Kebudayaan Nusantara 2026.
Dalam ajang yang akan berlangsung pada 12–17 Oktober 2026, FAAP akan membawa nama Sulawesi Selatan untuk berhadapan dengan para finalis dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran FAAP di tingkat nasional menjadi momentum untuk memperkenalkan keragaman budaya Sulawesi Selatan sekaligus membawa semangat pelestarian tradisi kepada generasi muda.
Perjalanan menuju panggung nasional tersebut tidak hadir secara tiba-tiba. Kiprah FAAP telah dibangun melalui berbagai pengalaman dalam bidang kepemimpinan, komunikasi publik, dan kegiatan sosial.
Perjalanannya dimulai sebagai Duta Remaja Kabupaten Maros 2026, hingga kemudian berhasil meraih gelar Duta Remaja Sulawesi Selatan 2026. Kemampuan dalam berbicara dan membangun komunikasi publik juga menjadi salah satu kekuatannya, yang dibuktikan melalui predikat Best Public Speaker pada Unibos Youth Forum (UYF).
Kini, pengalaman tersebut menjadi bekal bagi FAAP untuk menjalankan amanah sebagai Putri Kebudayaan Nusantara Sulawesi Selatan 2026. Bagi FAAP, gelar tersebut bukan hanya sebuah pencapaian personal, tetapi juga tanggung jawab untuk membawa identitas daerah ke ruang yang lebih luas.
“Saya ingin menjadikan kesempatan ini sebagai ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi Selatan kepada masyarakat yang lebih luas. Bukan hanya memperkenalkan, tetapi juga mengajak generasi muda untuk merasa memiliki dan ikut menjaga warisan budaya yang kita punya,” ujar FAAP.
Komitmennya dalam bidang kebudayaan berjalan beriringan dengan kepeduliannya terhadap kehidupan sosial generasi muda. Di luar panggung kompetisi, FAAP aktif membangun ruang berbagi melalui komunitas adapapa.id dengan slogan “Teman Dengar dan Pahami Ceritamu.”
Komunitas tersebut dirintis sebagai ruang bagi masyarakat untuk berbagi cerita dan mendapatkan kesempatan untuk didengarkan melalui layanan peer listening, baik melalui panggilan suara maupun pesan di media sosial. Dalam menjalankan kegiatan tersebut, FAAP turut merangkul mahasiswa Psikologi untuk terlibat dalam menghadirkan ruang yang aman bagi masyarakat yang membutuhkan teman untuk berbagi.
Tidak berhenti pada layanan peer listening, komunitas adapapa.id juga secara rutin menjalankan kegiatan sosial dan aksi kemanusiaan, termasuk kunjungan serta kegiatan berbagi di panti asuhan.
Aktivitas tersebut memperlihatkan bagaimana dunia akademik yang dijalani FAAP di bidang Psikologi dapat berjalan berdampingan dengan kepeduliannya terhadap masyarakat. Baginya, kemampuan untuk mendengar, memahami, dan berkomunikasi menjadi bagian penting dalam memberikan dampak positif kepada lingkungan sekitar.
Berbagai pengalaman tersebut kini menjadi bagian dari perjalanan FAAP menuju ajang Putri Kebudayaan Nusantara 2026. Di panggung nasional nanti, ia membawa lebih dari sekadar gelar perwakilan daerah. Ia membawa cerita tentang Sulawesi Selatan, keberagaman tradisinya, serta harapan agar kebudayaan lokal tetap dekat dengan generasi muda.
Sebagai mahasiswa Universitas Bosowa, perjalanan FAAP juga menjadi bagian dari semangat mahasiswa untuk terus mengembangkan potensi melalui berbagai ruang prestasi, baik di bidang akademik, komunikasi, kepemimpinan, kebudayaan, maupun pengabdian sosial.
Dengan semangat tersebut, FAAP mengajak seluruh keluarga besar Universitas Bosowa dan masyarakat Sulawesi Selatan untuk memberikan doa serta dukungan dalam perjalanan menuju panggung nasional.
Karena ketika seorang mahasiswa melangkah ke panggung nasional, yang ikut berdiri di belakangnya bukan hanya almamater. Ada daerah yang ingin diperkenalkan, ada budaya yang ingin dijaga, dan ada generasi muda yang ingin diyakinkan bahwa warisan masa lalu dapat menjadi identitas sekaligus kekuatan untuk melangkah ke masa depan.









