banner dprd mkassar
DAERAH  

Essay Kebangsaan: Wudhu

Oleh : Arman, Jubir Remusa Sulawesi.
(Matraman, 5 Desember 2018)

SUARACELEBES.COM, JAKARTA- Sebelum membaca sebaiknya Wudhu bukan karena kamu akan Shalat atau Ngaji, agar kamu paham bahwa Wudhu itu juga untuk bersih-bersih, kan suka dikatakan bersih walau noda adalah kodrat manusia. Untuk membaca di saat ini memang butuh Wudhu karena setiap kali membaca tulisan kecurigaan kita selalu saja tentang pilih Capres atau Caleg. Tenang sajalah, kalau hanya sekedar pilih-memilih sana berdoa semoga nafas pinjaman Tuhanmu masih berhembus hingga tanggal 17 April 2019

Baiklah… ini bukan tentang wacana kaum elitis yang di dalamnya dipenuhi dengan teori-teori kehidupan yang dahsyat, semoga juga bukan tentang kedengkian, terutama bukan tentang kebenaran yang bertahta di atas kebodohan, jauh dari keadilan yang berdaulat di atas ego sendiri.

Ini hanyalah tentang INDONESIA kita, yang miliki warna bendera Merah dan Putih. Bolehlah kita sejenak berhenti memaknai Merah itu adalah darah dan Putih itu adalah Tulang, sehingga mata tidak lagi melihat peristiwa tentang tumpahnya darah Anak Negeri di tanah air sendiri dan seolah kita hanyalah tulang belulang yang sama sekali tidak miliki wajah untuk kita saling mengenal sebagai Saudara Sebangsa tanah air Indonesia. Mari sejenak selami makna Merah itu adalah semangat bhakti berkobar untuk Bangsa dan Negara, dan Putih itu adalah gambaran niat tulus dan suci untuk Indonesia.

Bolehkah sejenak kita mengenang kurikulum sekolah dahulu kala, Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), berikut materi Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila (P4). Kurikukum itu seolah berlari meninggalkan tanah air sehingga tangisan anak murid di sekolah berujung ancaman hukuman bagi si Guru, tebaran tutur kata tak cukup menggambarkan jika penuturnya adalah manusia dan saya ragu beberapa tuturan diperuntukkan untuk manusia karena mulut seolah telah menjadi kebun binatang. Kita tak lagi sadar bahwa kita secara tidak langsung saling mengajari sesuatu yang tidak baik, anak-anak kita yang merupakan generasi pelanjut akan melanjutkan cara kita yang fasih saling ejek, saling iri dan dengki, saling hina. Maka jangan tanya kenapa murid berani menganiaya guru karena orang tua sendiri telah menganiaya mereka dengan memberi contoh yang tak layak.

Jangan tanya kenapa bangsa luar berani menghukum mati warga Indonesia karena bangsa luar terbiasa melihat kita saling mengusir seolah tak saling membutuhkan.
Jangan tanya kenapa bangsa luar berani mengklaim milik kita karena mereka terbiasa menyaksikan kita mementingkan diri sendiri.

Jangan tanya kenapa bangsa ini terlalu banyak mengatur, karena kita dihampiri kebiasaan menunggu diri dilarang untuk berhenti melakukan sesuatu yang buruk bagi kita, kita dihampiri kebiasaan diperintah untuk melakukan sesuatu yang baik bagi kita.

Jangan tanya kenapa menjamur narkoba yang sumber utamanya dari luar negeri, karena Bangsa ini jika sadar maka ia pintar dan akan jadi kuat, Bangsa ini jika mabuk maka ia bodoh dan akan jadi lemah. Bodoh dan lemah adalah Sumber Daya Manusia yang tak layak mewarisi kekayaan Sumber Daya Alamnya yang melimpah.

Jangan tanya kenapa ada peristiwa saling bunuh, itu karena hilangnya penghargaan pada sesama. Kita sangat terbiasa berikan contoh pada sesama untuk ringan mulut, saling hujat, mudah menyalahkan dan sulit memaklumi. Saling menghargai satu sama lain, sebagai sesama Ciptaan Tuhan dan saling melindungi raga berikut nyawa adalah cara kita mensyukuri pemberian Tuhan. Jika tidak mensyukuri maka akan ada pembunuhan di atas pembunuhan dan akan lahirkan terorisme diantara kita.

Jangan tanya kenapa Bangsa ini tertinggal dengan negara lainnya karena kita sendiri memang tidak siap jadi bangsa yang besar. Coba kita renungkan bersama… Siapapun yang jadi Presiden maka ia adalah Pemimpin kita, ia adalah wajah Bangsa kita dan wibawah Negara kita. Pemimpin dengan tegas mengajak kita kerja tetapi kita malah mencibir, Bangsa ini giat bekerja keras kita vonis pencitraan, Negara berkata bangsa kita baik-baik saja tapi kita malah membantah dan mengatakan bangsa lagi kronis.

Bagaimana bisa kita menjadi pemimpin untuk bangsa luar jika kita enggan menghargai pemimpin sendiri, bagaimana mungkin kita menjadi bangsa yang besar jika bangsa ini kita nilai bangsat, bagaimana pula kita mampu jadi Negara kuat jika kita tak asah nyali tetapi akrab dengan ketakutan.

Bagaimana mungkin kita bicara tentang warga dalam sebuah Negara Kesatuan sementara kita gemar umbar aib, gemar bertengkar dan berdebat hal yang sia-sia yang membuat kita tidak satu kesatuan tapi tercerai-berai. Jumlah ummat yang ikut Reuni 212 diperdebatkan, substansinya dimana tuan… Jumlah yang hadir itu ratusan juta bahkan miyaran karena satu insan Islam jika berdoa maka ia doakan sesama insan lainnya se-Dunia, itu artinya yang di doakan ditafsirkan ikut hadir di Monas, kali berapa banyak yang berdoa. Jumlah yang hadir itu bisa juga hanya satu karena berangkat dengan Niat yang sama yakni demi kebaikan Ummat, Bangsa, dan Negara (titik). Karena gemar berdebat, dihubungkan lagi dengan elctability Capres, wahai tuan… yang datang kesana itu bukan mau nyoblos tetapi datang beribadah secara berjama’ah massal supaya dapat pahala (jika ada yang datang bukan karena ibadah maka kerugianlah yang melandanya), yang datang kesana itu bukan karena Tuhan mereka adalah Capres tetapi mereka yang Tuhannya namanya ALLAH (jika ada Ummat yang datang bukan karena Allah maka ia telah Musyrik).

Bagaimana mungkin kita Pancasilais sementara kita sibuk mempraktekkan teori-teori demokrasi luar. Kita tengah jauh meninggalkan alam demokrasi yang sejuk nan damai, yang diinginkan Pancasila yakni “Khidmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan”. Politik kita berklausula suka dan benci… wahai Pembenci dalam politik, jangan hanya menduga perilaku orang yang kamu benci karena itu belum tentu benar tetapi sempatkan dirimu bertanya sekuat apa kamu mempertahankan kesukaanmu saat ini karena tak ada hari yang abadi.

Bagaimana… apakah Wudhu’mu belum mengering. Jika belum, maka ketika kering basuhlah kembali wajah dan pikiran dengan air Wudhu supaya semua jernih terlihat dan terpikirkan. Ini bukan hanya untuk kamu dan aku, tetapi untuk INDONESIA yang kita cintai.(*)

PDAM Makassar