banner dprd mkassar

UNIBOS dan IMS Malaysia Bahas Solusi Pangan Berbasis Sumber Daya Pertanian 

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR — Ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang seberapa banyak pangan dapat diproduksi, tetapi juga tentang bagaimana sebuah daerah mampu mengenali, mengolah, dan mengembangkan sumber daya yang dimilikinya menjadi pangan yang bernilai dan berkelanjutan.

Di tengah tantangan pangan yang terus berkembang, kemampuan untuk melihat potensi lokal sebagai bagian dari solusi menjadi semakin penting.

Perspektif tersebut menjadi bahasan utama dalam Kuliah Tamu Internasional bertajuk “Food Production From Local Agriculture Resources: Food Security Solution Approach” yang diselenggarakan Fakultas Pertanian dan Restorasi Lahan Tambang (FPRLT) Universitas Bosowa (Unibos), Rabu (30/9/2026), di Aula FPRLT Lantai 8 Gedung 1 Universitas Bosowa.

Kuliah tamu tersebut menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Mansoor Abdul Hamid, PhD, pakar dari Food Security Research Laboratory, Faculty of Food Science and Nutrition, Universiti Malaysia Sabah (UMS). Kehadirannya membuka ruang akademik bagi sivitas akademika Unibos untuk melihat persoalan ketahanan pangan dari perspektif yang lebih luas, khususnya melalui pemanfaatan sumber daya pertanian lokal.

Dalam pemaparannya, Dr. Mansoor mengangkat pentingnya optimalisasi sumber daya pertanian yang tersedia di suatu wilayah sebagai salah satu pendekatan dalam memperkuat ketahanan pangan. Potensi lokal tidak semata-mata dipandang sebagai komoditas yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi dapat dikembangkan melalui riset dan inovasi menjadi sumber pangan yang memiliki nilai gizi dan manfaat lebih besar.

Pembahasan tersebut menjadi relevan ketika ketahanan pangan dihadapkan pada berbagai perubahan dan tantangan yang dapat memengaruhi ketersediaan serta keberlanjutan rantai pangan. Dalam konteks tersebut, kemampuan suatu daerah untuk mengenali kekuatan sumber daya lokal menjadi bagian penting dalam membangun sistem pangan yang lebih adaptif.

Sejumlah potensi pertanian dan sumber daya pangan lokal turut menjadi bagian dari pembahasan, mulai dari jagung dan berbagai jenis biji-bijian, hasil peternakan seperti sapi, hingga potensi sumber daya maritim. Berbagai komoditas tersebut dapat dikembangkan melalui pendekatan ilmu pangan sehingga tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi dapat diarahkan menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah.

Perspektif tersebut sekaligus mempertemukan bidang keilmuan yang dimiliki FPRLT Unibos dengan kajian sains makanan dari UMS. Jika sektor pertanian berbicara mengenai bagaimana sumber daya dapat diproduksi dan dimanfaatkan, maka ilmu pangan memperluas pembahasannya pada bagaimana sumber daya tersebut dapat diolah, dikembangkan, dan menghasilkan produk pangan yang aman serta bernilai.

Bagi mahasiswa, pembahasan tersebut memberikan perspektif bahwa persoalan pangan membutuhkan pendekatan lintas disiplin. Pengetahuan mengenai produksi pertanian perlu berjalan beriringan dengan pemahaman tentang teknologi pangan, nutrisi, pengolahan, hingga bagaimana sebuah potensi lokal dapat dikembangkan menjadi solusi yang relevan bagi kebutuhan masyarakat.

Kuliah tamu berlangsung interaktif. Jajaran pimpinan, dosen, dan mahasiswa FPRLT Unibos turut mengikuti pembahasan dan berdiskusi langsung dengan narasumber dari Universiti Malaysia Sabah. Ruang akademik tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk tidak hanya memperoleh pengetahuan dari perspektif internasional, tetapi juga menguji dan menghubungkan gagasan tersebut dengan potensi yang ada di lingkungan mereka sendiri.

Bagi Unibos, forum akademik internasional seperti ini menjadi bagian dari upaya memperluas ruang belajar mahasiswa sekaligus mempertemukan perspektif keilmuan dari dua negara. Terlebih, kegiatan tersebut hadir bersamaan dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Fakultas Pertanian dan Restorasi Lahan Tambang Unibos dengan Faculty of Food Science and Nutrition, Universiti Malaysia Sabah, yang membuka ruang kolaborasi dalam pertukaran dosen dan mahasiswa, riset bersama, publikasi internasional, kuliah tamu, joint seminar, hingga pengabdian masyarakat internasional.

Dengan demikian, kuliah tamu ini tidak hanya menjadi forum berbagi pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian awal dari upaya menerjemahkan kerja sama kelembagaan ke dalam interaksi akademik yang nyata.

Pada akhirnya, ketahanan pangan tidak selalu harus dicari jauh dari tempat kita berpijak. Ia dapat berawal dari tanah yang dipulihkan, lahan yang dimanfaatkan, komoditas yang tumbuh, dan potensi lokal yang selama ini mungkin belum sepenuhnya dibaca sebagai kekuatan.

Dari ruang akademik Unibos, pembahasan tentang pangan kemudian bergerak lebih jauh: bagaimana potensi yang tumbuh di tingkat lokal dapat diolah melalui ilmu pengetahuan menjadi bagian dari solusi yang lebih luas. Sebab ketika potensi lokal bertemu riset, pangan bukan sekadar komoditas—ia menjadi bagian dari masa depan yang perlu dijaga bersama.

PDAM Makassar