Awas, Predator Seksual Anak Merambah Dunia Game Online

ilustrasi anak anak bermain game online (int)
Pemkot Makassar SC
BAPENDA Makassar SC

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Pandemi Covid-19 telah memaksa sebagian besar masyarakat beraktivitas dari rumah. Rasa bosan lalu menjadi musuh utama mereka dan kerap diatasi dengan berselancar di dunia maya dan media sosial via smartphone, termasuk bermain game online.

Hyper-Casual Gaming dari Adjust melaporkan pengunduhan aplikasi game seluler pada akhir Maret 2020 lalu, beberapa pekan setelah status pandemi ditetapkan sudah mengalami peningkatan sebesar 75 persen dibanding akhir Maret 2019.

Selain itu, waktu bermain para pengguna game online juga mengalami peningkatan sebesar 47 persen.

Di tanah air, pemandangan anak-anak yang terpaku dengan gawainya juga jamak terlihat dan bikin resah orang tua. Tapi mereka kerap tak punya pilihan karena butuh ‘teman’ pengganti untuk membunuh waktu–di luar jam belajar yang juga online.

Salah satu game online yang kini digandrungi anak-anak yakni “Free Fire”. Game ini sendiri merupakan game tembak menembak yang bisa menyita waktu anak hingga berjam-jam.

Para orang tua pun dibuat bingung dengan kondisi seperti ini. Pasalnya, para anak dibuat bermalas-malasan di rumah serta dampaknya pun berbahaya bagi kesehatan.

Selain itu, kini orang tua juga dihadapkan dengan adanya berita predator seksual yang kini merambah di dunia game online, khususnya pada game Free Fire. Baru-baru ini Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri menangkap pelaku kejahatan seksual anak berinisial S yang melakukan aksinya melalui game online.

Tersangka berinisial S diketahui melakukan aksinya dengan memanfaatkan game online “Free Fire” untuk mencari korban anak-anak di bawah umur khususnya perempuan. Modusnya pun berawal dari berkenalan dengan salah satu korban melalui game online “Free Fire”, kemudian tersangka mulai bermain dan mengobrol dengan korban melalui fitur chat di game dengan korban.

Korban pun kemudian diiming-imingi akan diberikan “diamond” atau alat transaksi dalam game sebanyak 500-600 diamond atau senilai dengan Rp 100.000 sehingga pemain bisa mengoptimalkan performa serta memperkuat senjata.

Pemberian diamond ini pun tidak secara Cuma-Cuma melainkan diamond tersebut akan diberikan jika korban mau mengirimkan foto dan video telanjang atau porno. Tersangka juga bahkan memaksa korban untuk melakukan video call seks (VSC) dengan iming-iming akan diberikan diamond, dan jika Korban menolak, tersangka mengancam akan menghilangkan akun game korban.

Untuk itu, para orang tua diharapkan dapat mengawasi secara ketat anak-anak mereka dalam bermain game online khususnya “Free Fire”, dimana dalam game tersebut terdapat fitur chating yang dapat dimanfaatkan para pelaku penyimpangan seksual tersebut.

Badan Intelijen Negara
Pangkep SC