Jaringan Organisasi Difabel Respon Covid-Inklusif Sukses Laksanakan Survei Dampak Covid Tahap 2!

Pemkot Makassar SC
BAPENDA Makassar SC

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR –  Sejumlah organisasi pergerakan disabilitas yang tergabung dalam jaringan organisasi difabel respon covid Inklusif, baru saja melaksanakan survei untuk menilai sejauh mana dampak pandemi covid-19 terhadap kehidupan penyandang disabilitas di Indonesia (Januari – Februari 2021). Ini merupakan survei tahap dua setelah pada april 2020 yang lalu dilakukan survei tahap satu.

Kurang lebih satu bulan setelah kasus pertama COVID-19 diumumkan pemerintah, jaringan DPO Untuk Respon Covid-19 yang inklusif berinisiatif melakukan asesmen cepat dampak COVID-19 terhadap Difabel. Asesmen ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai sejauhmana COVID-19 telah berdampak terhadap kehidupan dan penghidupan difabel, utamanya pada sektor sosial, ekonomi dan pendidikan. Hasil asesmen yang telah disusun membuktikan bahwa COVID-19 memberikan dampak yang cukup serius bagi difabel.

Ishak Salim, Ketua Yayasan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan, yang turut menginisiasi survei ini menyampaikan, bahwa COVID-19 di Indonesia telah berlangsung kurang lebih setahun dan berakibat pada kemerosotan kondisi ekonomi Indonesia.
“Berbagai skema dikeluarkan oleh pemerintah untuk menanggulangi tidak saja COVID-19 tetapi juga kemerosotan ekonomi. Berlarutnya COVID-19 ini menjadi alasan kuat untuk kembali melakukan asesmen dampak COVID-19 pada difabel,” jelas Ishak.

Joni Yulianto selaku ketua Jaringan Organisasi Difabel respon Covid-Inklusif mengungkapkan, Jika asesmen pertama dimaksudkan untuk melihat dampak serta-merta dari pandemi Covid-19, asesmen tahap kedua ini diharapkan dapat memotret dampak yang lebih mendalam terjadinya Covid-19 di berbagai aspek, yang selanjutnya dapat menjadi pertimbangan dalam merumuskan intervensi yang tepat.

Jika pada asesmen tahap pertama, murni dikerjakan oleh organisasi difabel secara sukarela saat proses penyusunan instrumen hingga proses pendataan, pada survei tahap dua ini, banyak didukung oleh Australia Indonesia partenership For Justice 2 (AIPJ2) dan sejumlah organisasi mitra pembangunan lainnya seperti Mahkota dan DRF. Sejak proses penyusunan instrumen, pengumpulan data, analisis hingga diseminasi temuan hasil asessment ke seluruh Indonesia.

“Adapun ketentuan sampling dalam survei tahap ke-dua ini menggunakan metode purposive sampling di mana setiap provinsi ditetapkan 50 responden dengan ketentuan 50% laki-laki dan 50% perempuan,” Jelas Ishak.

Dari kriteria tersebut, Total responden yang diharapkan adalah 1700 untuk seluruh Indonesia.
Selain sampling tersebut, tim riset juga menetapkan sejumlah ketentuan, yakni keberagaman penyandang disabilitas dan usia, di mana jumlah responden untuk penyandang disabilitas fisik adalah 15 responden, penyandang disabilitas penglihatan 10 responden, penyandang disabilitas sensorik 10 responden, penyandang disabilitas intelektual 5 responden, penyandang disabilitas mental/kejiwaan sebanyak 5 responden, dan penyandang disabilitas ganda/multi sebesar 5 responden. Dalam pendataan ini, target 50 responden perprovinsi mayoritas tercapai bahkan melebihi target, dan hanya dua provinsi yang tidak memenuhi target, yakni Provinsi Aceh dan Provinsi Gorontalo. Ketentuan usia responden dari setiap jenis penyandang disabilitas diatur ke dalam kategori usia <12 tahun, 12-15 tahun, 16-17 tahun, 18-60 tahun dan > 60 tahun. Dikarenakan sejumlah kendala cuaca, jaringan komunikasi internet, jarak dan kendala lainnya, jumlah total responden sekitar 1600 responden. Angka ini sudah memadai untuk dilanjutkan ke tahap analisis.

Berti Soli Dima Malingara Sebagai koordinator riset untuk Propinsi NTB, NTT dan Bali, menyampaikan bahwa Survei tahap ini lebih terorganisir dengan baik dan bisa mendapatkan responden yang memenuhi kriteria sampling. Proses pendataan di 3 provinsi menarik karena menggunakan enumeratornya difabel, teknik yang digunakan berbeda dan jumlah tim yang berbeda pula. Tim kompak karena ada meeting wilayah dan ada internal meeting di tiap provinsi.

“Kami membuktikan bahwa difabel berdaya. Difabel mampu mengorganisir tim, menyusun strategi, saling percaya, yakin survei ini akan berhasil, saling menyemangati dalam grup WA
tim tengah 4 dan tidak malu bertanya saat kurang yakin dengan pertanyaan atau cara berkomunikasi dengan responden..” papar Berti.

Berti melanjutkan bahwa tim NTT dan NTB juga membuktikan bahwa enumerator difabel perempuan juga mampu melakukan survey ini dengan sangat baik. Penguatan tim (membangun kepercayaan, membangun kerjasama, sharing informasi dan saling belajar memahami instrument) di awal sebelum survey membuat tim bisa menyiapkan diri dan data awal dengan baik.(*)

Perumda Parkir Makassar
Pangkep SC