SUARACELEBES.COM, MAKASSAR — Di balik setiap angka tentang riset, inovasi, pendanaan, maupun sumber daya manusia, selalu ada cerita tentang bagaimana sebuah perguruan tinggi bergerak membangun pengetahuan. Namun, seberapa jauh angka-angka tersebut benar-benar menggambarkan kondisi di lapangan?
Pertanyaan itulah yang menjadi bagian penting dalam Ground Checking Data Indikator Iptek, Riset, dan Inovasi (IIRI) 2026 yang dilaksanakan Direktorat Pengukuran dan Indikator Riset, Teknologi, dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Universitas Bosowa (Unibos), Kamis (24/9/2026).
Bertempat di Ruang Rapat Direktorat Inovasi, Riset, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DIRPM), Gedung 2 Lantai 6 Universitas Bosowa, kegiatan ini menjadi ruang diskusi dan verifikasi untuk memperoleh informasi serta masukan terkait ketersediaan, cakupan, dan pengelolaan data perguruan tinggi swasta, khususnya yang berkaitan dengan anggaran dan belanja penelitian, sumber pendanaan, sumber daya manusia riset, serta mekanisme pencatatan dan pelaporan data.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian penyusunan Buku Indikator Iptek, Riset, dan Inovasi (IIRI) Tahun 2026. Ground checking dilakukan untuk mengonfirmasi data sekunder yang telah diperoleh dengan informasi aktual di lapangan, mengklarifikasi apabila terdapat perbedaan atau ketidaksesuaian data, sekaligus mengidentifikasi informasi yang belum tercermin dalam sumber data yang tersedia.
Bagi Universitas Bosowa, kunjungan ini sekaligus menjadi ruang strategis bagi DIRPM Unibos untuk berbagi perspektif mengenai bagaimana data riset dan inovasi dikelola di lingkungan perguruan tinggi, termasuk berbagai mekanisme yang mendukung pencatatan, pengelolaan, serta pelaporan aktivitas riset dan pengabdian kepada masyarakat.
Diskusi tersebut juga diarahkan untuk mengidentifikasi potensi data gap atau kesenjangan data yang dapat menjadi masukan dalam meningkatkan kualitas data IIRI pada periode berikutnya. Dengan demikian, proses ground checking tidak sekadar menjadi aktivitas konfirmasi angka, tetapi juga menjadi upaya untuk memahami konteks di balik data yang digunakan dalam menggambarkan ekosistem iptek, riset, dan inovasi Indonesia.
Dalam penyusunan IIRI 2026, kualitas data menjadi salah satu aspek penting untuk memastikan indikator yang dihasilkan mampu menggambarkan kondisi ilmu pengetahuan, teknologi, riset, dan inovasi secara akurat serta dapat dipertanggungjawabkan.
Data IIRI berasal dari berbagai sumber dan mencakup lima sektor utama dalam ekosistem iptek, riset, dan inovasi, yaitu pemerintah, pendidikan tinggi, badan usaha/industri, lembaga swasta nirlaba, serta lembaga donor internasional.
Keragaman karakteristik kelembagaan dan sistem pengelolaan data dari masing-masing sektor menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan konsistensi dan keterbandingan data. Perbedaan definisi, cakupan, periode pengamatan, metode pencatatan, hingga mekanisme pengelolaan data dapat menyebabkan adanya perbedaan antara data sekunder yang tersedia dengan kondisi aktual.
Karena itu, ground checking menjadi salah satu mekanisme penting untuk memperkuat kualitas data. Proses ini memungkinkan data yang telah diperoleh untuk dikonfirmasi, diklarifikasi, dan diperbarui berdasarkan informasi yang lebih relevan dan mutakhir dari sumber data atau unit yang menjadi objek pengukuran.
Dalam konteks perguruan tinggi, informasi yang digali tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan data, tetapi juga bagaimana data tersebut dihasilkan, dicatat, dikelola, dan dilaporkan.
Hal tersebut menjadi semakin penting ketika indikator yang dihasilkan akan digunakan untuk membaca kapasitas dan perkembangan ekosistem riset serta inovasi secara lebih luas.
Kegiatan di Universitas Bosowa diikuti oleh tim penyusun Buku IIRI 2026 dari BRIN bersama pihak universitas. Dari BRIN, tim kunjungan terdiri atas Dr. Yudi Widayanto, S.Si., M.Si., selaku Analis Kebijakan Ahli Madya; Fitriana Rachmawati, S.T., selaku Analis Data Ilmiah Ahli Pertama; Uswatun Hasanah, A.Md., selaku Pengelola Layanan Operasional; serta Ismiyati, S.E., selaku Analis Pengelolaan Keuangan APBN Ahli Muda.
Sementara dari Universitas Bosowa, kegiatan dihadiri oleh jajaran pimpinan dan pengelola terkait, termasuk Direktur Direktorat Inovasi, Riset, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DIRPM) Unibos, Dr. Ahmad Swandi, S.Pd., M.Si.
Turut hadir dalam konteks penguatan ekosistem kelembagaan Universitas Bosowa, Rektor Unibos Prof. Dr. Ir. Batara Surya, S.T., M.Si., serta Direktur Program Pascasarjana Unibos Prof. Dr. Ir. A. Muhibuddin, MP.
Dalam sesi diskusi, pembahasan diarahkan pada konfirmasi data dan informasi yang berkaitan dengan aktivitas riset dan inovasi di perguruan tinggi, termasuk aspek pendanaan penelitian, sumber daya manusia riset, serta mekanisme penyediaan dan pelaporan data.
Pertukaran informasi tersebut menjadi penting karena kualitas indikator pada akhirnya sangat bergantung pada kualitas sumber data yang mendasarinya. Semakin jelas definisi, mekanisme pencatatan, dan sumber informasi yang digunakan, semakin kuat pula basis data yang dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi ekosistem iptek, riset, dan inovasi.
Selain melakukan verifikasi, kegiatan ini juga membuka ruang untuk mengidentifikasi informasi yang mungkin belum sepenuhnya tercermin dalam sumber data sekunder. Temuan tersebut dapat menjadi masukan untuk pengembangan sumber data, penyempurnaan indikator, maupun peningkatan mekanisme penyediaan data pada periode selanjutnya.
Ground Checking Data IIRI 2026 di Universitas Bosowa menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang dilaksanakan di Provinsi Sulawesi Selatan pada 22–24 September 2026.
Pemilihan Sulawesi Selatan sebagai salah satu lokus mempertimbangkan karakteristik ekosistem pendidikan tinggi serta keberadaan perguruan tinggi dengan kapasitas dan tingkat akreditasi yang beragam. Melalui pendekatan tersebut, proses ground checking diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai variasi kapasitas perguruan tinggi dalam mendukung pendidikan, riset, dan inovasi.
Lebih jauh, hasil ground checking diharapkan dapat membantu meningkatkan akurasi, validitas, konsistensi, relevansi, dan keterbandingan data yang digunakan dalam Buku IIRI 2026.
Bagi DIRPM Universitas Bosowa, keterlibatan dalam proses ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola data riset dan inovasi di lingkungan perguruan tinggi. Data tidak lagi sekadar menjadi arsip administratif, tetapi menjadi fondasi untuk membaca capaian, menemukan kesenjangan, merancang pengembangan, dan mengambil keputusan berbasis bukti.
Karena pada akhirnya, angka tidak pernah benar-benar hanya angka. Di balik satu data penelitian ada peneliti yang bekerja, di balik satu angka pendanaan ada kebijakan yang bergerak, dan di balik satu indikator inovasi ada proses panjang yang sedang dibangun.
Melalui Ground Checking Data IIRI 2026, DIRPM Unibos bersama BRIN tidak hanya memeriksa apakah data tersedia, tetapi ikut memastikan bahwa data tersebut mampu bercerita tentang realitas riset dan inovasi yang sesungguhnya.
Dan ketika data mampu bercerita dengan lebih akurat, di situlah kebijakan memiliki pijakan yang lebih kuat untuk menentukan ke mana ekosistem riset dan inovasi Indonesia akan melangkah.









