SUARACELEBES.COM, JAKARTA — Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla (JK) menghadiri peresmian gedung baru Markas PMI DKI Jakarta dan Unit Donor Darah (UDD) di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026).
Dalam sambutannya, JK menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas dukungan pembangunan fasilitas tersebut. Menurutnya, keberadaan markas yang representatif sangat penting untuk menunjang pelayanan kemanusiaan PMI, baik dalam pelayanan darah maupun penanganan bencana.
JK menegaskan bahwa PMI menggunakan istilah “markas”, bukan sekadar kantor. Hal tersebut mencerminkan kesiapsiagaan PMI yang harus dapat dihubungi dan bergerak setiap saat ketika masyarakat membutuhkan bantuan.
“PMI itu tidak punya kantor, semuanya markas. Apa itu markas? Berbeda dengan kantor. Karena kantor itu orang bekerja. Kalau markas, seperti tentara, polisi. Jadi boleh menghubungi PMI dan UDD, jam berapa pun bisa dihubungi,” kata JK.
JK juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas pembangunan gedung tersebut. Proses pembangunan, menurut dia, berlangsung selama beberapa tahun hingga akhirnya dapat diselesaikan dan digunakan untuk memperkuat pelayanan PMI kepada masyarakat.
Pelayanan Darah untuk Jakarta dan Daerah Lain
Dalam kesempatan tersebut, JK menyoroti besarnya kebutuhan darah yang harus dilayani PMI DKI Jakarta setiap hari. Ia menyebut pengumpulan darah di Jakarta mencapai sekitar 1.000 hingga 1.200 kantong per hari melalui UDD pusat maupun sejumlah unit lainnya yang tersebar di wilayah Jakarta.
Menurut JK, kebutuhan darah tersebut tidak hanya berasal dari warga Jakarta. Sebagai pusat layanan kesehatan nasional, rumah sakit di Jakarta juga banyak menerima pasien dari berbagai daerah.
“Yang berobat ke rumah sakit di Jakarta datang dari seluruh Indonesia. Jadi yang diberikan transfusi darah dari tempat ini bukan hanya penduduk DKI. Dari Jawa Barat, dari Sulawesi, dari Sumatera datang ke sini untuk pengobatan, untuk operasi,” ujarnya.
Karena itu, JK menilai fasilitas pelayanan darah memiliki fungsi kemanusiaan yang sangat penting. Ketersediaan darah yang memadai dapat membantu ribuan pasien yang membutuhkan transfusi untuk operasi maupun berbagai tindakan medis lainnya.
JK juga menekankan pentingnya donor darah sukarela. Menurutnya, keberadaan para pendonor rutin menjadi salah satu penopang utama ketersediaan darah bagi masyarakat.
PMI Dorong Pemanfaatan Plasma
Selain pelayanan donor darah, JK menyinggung pengembangan industri pengolahan darah di Indonesia, mulai dari produksi kantong darah hingga pemanfaatan plasma sebagai bahan baku obat.
Menurut JK, plasma yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal memiliki nilai penting karena dapat diproses menjadi produk obat yang selama ini masih banyak didatangkan dari luar negeri.
“Karena selama ini plasma dibuang. Maka difraksinasi menjadi obat,” kata JK.
Ia berharap pengembangan industri pengolahan plasma di dalam negeri dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk impor sekaligus meningkatkan pemanfaatan komponen darah yang dikumpulkan dari para pendonor.
PMI Tak Hanya Menangani, tetapi Juga Mencegah Bencana
JK juga menekankan bahwa tugas kemanusiaan PMI tidak berhenti pada penanganan setelah bencana terjadi. PMI, kata dia, harus ikut mendorong upaya pencegahan dan pengurangan risiko bencana.
“Di samping kita membantu kemanusiaan, sekarang kita mulai menggerakkan bagaimana mencegah bencana itu. Bagaimana mencegah, karena hukumnya mencegah daripada mengobati,” ujarnya.
Khusus Jakarta, JK menyoroti dua persoalan yang kerap dihadapi masyarakat, yakni banjir dan kebakaran.
Untuk mengurangi risiko banjir, ia menekankan pentingnya menjaga saluran air agar tetap berfungsi. Menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri karena masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan saluran air di sekitar tempat tinggal tidak tersumbat.
“Masyarakat harus membersihkan lingkungannya,” kata JK.
Ia menjelaskan bahwa persoalan banjir tidak hanya berkaitan dengan tingginya volume air yang masuk, tetapi juga kemampuan saluran untuk mengalirkan air tersebut. Karena itu, pemeliharaan drainase menjadi bagian penting dalam pencegahan banjir.
Soroti Kebakaran dan Instalasi Listrik
JK juga memberikan perhatian khusus terhadap kebakaran di kawasan permukiman. Ia mengatakan banyak kejadian kebakaran sebenarnya dapat dicegah melalui peningkatan kedisiplinan dan kesadaran masyarakat, termasuk dalam penggunaan instalasi listrik.
Menurutnya, pemasangan instalasi listrik yang tidak sesuai kapasitas maupun penggunaan peralatan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko korsleting dan kebakaran.
“Kalau disiplin listrik, 50 persen kebakaran bisa turun,” ujar JK.
Ia juga menyoroti besarnya dampak sosial dan ekonomi kebakaran, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Kebakaran, kata JK, dapat menghabiskan rumah beserta harta benda sehingga semakin memperberat kondisi ekonomi keluarga yang menjadi korban.
“Kalau kebakaran, habis semua. Kebakaran menghabiskan seluruh rumah. Banjir hanya mengotori rumah,” katanya.
Karena itu, JK mendorong kerja sama antara pemerintah daerah, PMI, masyarakat, serta pihak terkait untuk memperkuat edukasi pencegahan kebakaran dan meningkatkan kedisiplinan dalam penggunaan listrik.
Menurut JK, keberadaan gedung baru PMI DKI Jakarta diharapkan semakin memperkuat pelayanan kemanusiaan di ibu kota, mulai dari pelayanan darah hingga kesiapsiagaan dan penanganan bencana.
Peresmian gedung tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara PMI, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta masyarakat dalam memberikan pelayanan kemanusiaan dan mengurangi risiko bencana di Jakarta.









