banner dprd mkassar
DAERAH  

Di Balik Gelar Magister, dr. Yosfiah Ungkap Risiko Shift Malam bagi Dokter Muda

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR — Universitas Hasanuddin kembali menggelar prosesi wisuda untuk Periode Maret Tahun Akademik 2025/2026. Di antara para lulusan, sosok dr. Yosfiah Asrizal Rewa., M.Biomed mencuri perhatian lewat penelitian ilmiahnya yang relevan dengan dunia medis modern.

Lulusan Magister Biomedik Fakultas Kedokteran Unhas ini mengangkat isu penting terkait pengaruh kerja shift malam terhadap kapasitas memori jangka pendek dokter muda yang tengah menjalani pendidikan klinik. Putra pasangan H. Rustan Rewa, S.P., M.P. dan Hj. Suriani, S.TP ini berhasil menyelesaikan studinya dengan riset yang dinilai memiliki dampak luas bagi sistem pendidikan kedokteran.

 

Dalam penelitiannya, dr. Yosfiah menyoroti pentingnya working memory atau daya ingat jangka pendek dalam praktik medis. Menurutnya, kemampuan ini menjadi kunci bagi dokter muda dalam mengingat instruksi klinis, menganalisis kondisi pasien, hingga mengambil keputusan cepat di tengah tekanan situasi rumah sakit.

“Dalam dunia medis, ketepatan dan kecepatan berpikir sangat bergantung pada daya ingat yang optimal,” ungkapnya saat ditemui usai prosesi wisuda yang berlangsung di Baruga Unhas, Rabu (1/3/2026), yang turut dihadiri kedua orang tuanya.

Teliti 68 Dokter Muda

Penelitian ini melibatkan 68 dokter muda berusia 18–25 tahun yang sedang menjalani rotasi klinik di RSUD Undata Sulawesi Tengah. Para responden diminta mengisi kuesioner terkait kualitas tidur, tingkat stres, serta kualitas hidup, sekaligus menjalani tes khusus untuk mengukur kemampuan memori jangka pendek.

Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode statistik guna memastikan hasil yang valid dan akurat.

Shift Malam Jadi Faktor Dominan

Hasil penelitian menunjukkan temuan yang cukup mencolok: frekuensi shift malam memiliki hubungan signifikan dengan penurunan kemampuan memori jangka pendek.

“Semakin sering dokter muda menjalani shift malam, semakin rendah skor daya ingat yang mereka peroleh,” jelas dr. Yosfiah.

Menariknya, faktor lain seperti kualitas tidur subjektif, tingkat stres, dan kualitas hidup justru tidak menunjukkan hubungan signifikan terhadap penurunan daya ingat dalam penelitian ini.

“Ini menegaskan bahwa kerja shift malam menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi fungsi kognitif dokter muda,” tambahnya.

Implikasi bagi Dunia Kedokteran

Temuan ini membawa pesan penting bagi dunia pendidikan kedokteran dan layanan kesehatan. Dokter muda berada pada fase krusial dalam pembentukan kompetensi klinis, sehingga gangguan pada fungsi kognitif berpotensi meningkatkan risiko kesalahan medis.

Selain itu, penurunan daya ingat juga dapat memperlambat proses belajar dan menurunkan kepercayaan diri tenaga medis muda.

Menurut dr. Yosfiah, sudah saatnya dilakukan evaluasi terhadap sistem penjadwalan kerja di rumah sakit, khususnya terkait intensitas shift malam.

“Pengaturan jadwal yang lebih manusiawi, serta edukasi tentang manajemen tidur, menjadi langkah penting untuk menjaga performa kognitif dokter muda,” tegasnya.

Menjaga Kesehatan Kognitif Tenaga Medis

Penelitian ini menegaskan bahwa menjaga kesehatan tenaga medis tidak hanya soal fisik, tetapi juga kemampuan berpikir yang menjadi fondasi utama dalam praktik kedokteran.

Di tengah tuntutan pelayanan yang tinggi, kualitas keputusan medis menjadi faktor krusial—dan hal itu sangat bergantung pada daya ingat yang sehat.

Melalui riset ini, dr. Yosfiah tidak hanya menorehkan prestasi akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan di Indonesia.

PDAM Makassar